Pendidikan adalah Tanggungjawab bersama

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (Kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar” (QS Annisa 4:9)

Pendidikan anak bangsa di masa depan adalah tanggung jawab kita bersama. Bagaimana wajah dan perilaku bangsa kita di masa datang sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita mendidik dan mempersiapkan mereka saat ini.

“Setidaknya ada lima problematika pendidikan di Indonesia saat ini. Selain kualitas pendidikannya yang relatif memang rendah bila dibandingkan Malaysia dan Singapura, tingkat pendidikan rata-rata bangsa Indonesia juga relatif rendah. Padahal dahulu kitalah yang menjadi guru bagi mereka, dulu banyak guru dari Indonesia yang dikirim ke sana untuk mengajar ke Malaysia tapi sekarang malah pendidikan kita yang tertinggal,” tutur Sukro Muhab, Dosen Kimia UNJ, pada seminar sosialisasi Pendidikan kesetaraan ahad lalu (29/04).

Penyataan Ketua Jaringan Sekolah Dasar Islam Terpadu ini didukung oleh fakta bahwa berdasarkan survey TIMSS (Third Mathematics and Scren Study), kemampuan siswa Indonesia dalam penguasaan matematika menduduki peringkat ke 34 sedangkan dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menduduki peringkat ke 32 dari survey yang dilakukan terhadap 38 negara di dunia.

“Hal ini sangat ironis karena anak Indonesia sering menang dalam Olympiade IPA dan matematika berskala internasional. sangat disayangkan dana yang begitu besar hanya digunakan untuk persiapan memenangkan olympiade tersebut. kalau digunakan untuk memberantas buta aksara tentunya akan lebih berguna dan bermanfaat untuk banyak orang,” tukas Sukro.

Fakta lainnya, berdasarkan survey yang dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Education Achievement  terhadap tingkat kemampuan membaca siswa di dunia, anak Indonesia ternyata hanya mampu menyerap 30% dari apa yang telah ia baca dan sukar sekali menjawab soal-soal uraian yang membutuhkan penalaran padahal Negara lain seperti Thailand, Singapore dan Hongkong bisa mencapai angka 65 – 80 %.

Ini membuktikan bahwa program pendidikan kita tidak memberdayakan otak kanan dan kiri. Dengan kurikulum yang ada saat ini, ternyata saat guru mentransfer ilmu ke siswa, tidak ada keseimbangan perkembangan antara kedua bagian otak tersebut. Guru hanya meyuruh anak didiknya untuk menghafalkan materi sekolah tanpa menjelaskan apa dan bagaimana penerapannya,” kata Pria lulusan S1 Kimia UNJ ini.

“Bukti bahwa tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih rendah saat ini terlihat dari rendahnya persentase anak Indonesia yang mengikuti Wajar (Wajib Belajar) 9 tahun yaitu hanya 36,2% saja. Selain itu, sekitar 86% anak Indonesia belum sempat menduduki bangku kuliah di Perguruan Tinggi,” tegas Sukro.

“Intinya jumlah anak Indonesia yang sekolah sampai sekolah menengah hanya mencapai 30% dan rata-rata anak Indonesia yang berusia tidak kurang dari 15 tahun hanya sampai kelas 2 SMP,” tutur Pria yang menamatkan pasca sarjananya di Universitas Gajahmada ini.

Lebih lanjut, pria yang memiliki motto hidup hidup mulia dan matipun mulia ini menjelaskan bahwa selain hal tersebut diatas permasalahan lainnya adalah tingkat pengangguran yang tinggi untuk usia produktif dan tingginya angka buta aksara untuk orang dewasa.

Angka pengangguran di Indonesia memang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Sakernas BPS tahun 2003 – 2004, ada 10,3 juta orang pengangguran terbuka sedangkan yang merupakan penganggur kritis 6,6 juta orang, dan sekitar 31 juta orang setengah menganggur. Sebagai informasi tambahan pengangguran dari lulusan terbaru rata-rata mencapai 1,9 juta orang per tahunnya.

“Tingginya angka pengangguran ini bukan karena mereka tidak memiliki ijazah, tapi karena selama mengenyam pendidikan ketrampilan mereka tidak diasah. Akibatnya mereka menjadi tidak siap pakai ketika memasuki dunia kerja. Jadi dengan sistem pendidikan yang sekarang ini kita hanya bisa melahirkan 20% dari faktor kesuksesan seseorang, sedangkan 50% lagi yang dipengaruhi oleh ESQ dan ASQ (Emotional and Adversity Spiritual Qoutient) malah tidak dimunculkan,” tegas Sukro.

“Angka buta aksara di Indonesia juga cukup tinggi dibandingkan negara lain. Angka buta aksara pada usia lebih dari 15 tahun adalah sebesar 9,55%. Sedangkan tingkat buta aksara untuk usia dewasa mencapai 13,1%,” kata Sukro.

“Problematika terakhir adalah mengenai tingkat partisipasi pendidikan yang semakin menurun seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Sebagai contoh tingkat partisipasi siswa SD jauh lebih besar ketimbang Mahasiswa,” tutur Sukro menjelaskan perkataannya.

“Semua problematika yang telah disebutkan (red.) bukanlah tanpa solusi. Rencananya sekarang ini pemerintah menganggarkan 20% dari Anggaran negara untuk pendidikan walaupun kenyataannya baru 9,9% yang turun ke masyarakat dan itupun pada pelaksanaannya belum bisa memihak pada kepentingan rakyat. Dan saat ini di lembaga legislatif ada ibu Aan Rohana yang berjuang agar pendidikan bermutu dapat dirasakan oleh segenap anak bangsa. Program peningkatan kesejahteraan guru, BOS dan BOP, Pendidikan kesetaraan dll merupakan upaya perbaikan itu yang harus didukung oleh semua pihak,” tukas Sukro masih dalam acara yang sama.

“Sebagai seorang muslim tentunya kita harus selalu ingat sabda Rasul bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim mulai dari lahir hingga liang kubur. Ini menandakan betapa penting pendidikan dalam islam dan tingginya posisi orang yang berilmu di sisiNya,” kata Ustadz Abdul Hasib Hasan,Lc, Ketua yayasan Al-Hikmah.

“Problematika pendidikan yang terjadi di masyarakat saat ini jika tidak diatasi segera maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang tertindas pada era globalisasi ini,” tutur Ustadzah Hj Aan Rohana, LC ketika berbicara dihadapan lebih dari 150 peserta seminar pendidikan kesetaraan.

Tidak ada kata terlambat dan patah semangat dalam kamus kita. Ini saatnya kita benahi sistem pendidikan kita, karena kita yakin kita adalah ummat terbaikNya. Seperti firmannya: “Dan demikianlahpula kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (seimbang antara dunia dan akhirat) dan umat pilihan….” (QS Al-Baqoroh 2:143)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: