MOTIVASI BELAJAR

2.1 Pengertian Motivasi

Secara etimologis, Winardi (2002: 1) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yaitu movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi  motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Selanjutnya Winardi (2002: 33) mengemukakan, motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif, dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan. Steiner dikutip dari Hasibuan (2003: 95) mengemukakan motif adalah “suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir”.

Winardi (2002: 33) menjelaskan, motif  kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang. Motif diarahkan ke arah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi di bawah sadar.  Hubungan antara motif, tujuan, dan aktivitas dapat ditunjukan pada gambar berikut  ini.

Gambar 1

Sebuah Situasi yang Memotivasi

Sumber: Winardi. (2002: 41)

Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di mana motif-motif seorang individu, diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat, menimbulkan perilaku, yang bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan.  Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.

Berdasarkan uraian di atas, dalam konsep motif terkandung makna (1) motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2)  motif merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa motif merupakan suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu dengan maksud tujuan tertentu. Istilah motivasi, didefinisikan oleh MC. Donald (dalam Hamalik, 1992) sebagai suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurutnya terdapat tiga unsur yang berkaitan dengan motivasi yaitu:
1. Motif dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, misalnya adanya
perubahan dalam sistem pencernaan akan menimbulkan motif  lapar.
2. Motif ditandai dengan timbulnya perasaan (afectif arousal), misalnya karena
tertarik dengan sesuatu yang sedang diikuti.
3. Motif ditandai oleh reaksi-rekasi untuk mencapai tujuan.
Menurut Chung dan Meggison motivasi merupakan prilaku yang ditujukan kepada sasaran, motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan. Sedangkan menurut Heidjrachman dan Suad Husnan motivasi merupakan proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar mau melakukan sesuatu yang diinginkan. (http://www.scribd.com/doc/13574422/PENGERTIAN-MOTIVASI, diakses 29 Januari 2011)

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, menurut Sumantri (2001: 53), motivasi digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3) bagaimana perilaku itu dipertahankan (sustaining). Ketiga komponen tersebut menjadi dasar motivasi.

Menurut Berendoom dan Stainer (dalam Sedarmayanti, 2000: 45), mendefinisikan motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Hasibuan (2003: 95) mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Vroom (dalam Gibson, 1991: 185) mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses yang menentukan pilihan antara beberapa alternatif dari kegiatan sukarela. Sebagian perilaku dipandang sebagai kegiatan yang dapat dikendalikan orang secara sukarela, dan karena itu dimotivasi.

Wahjosumidjo  (1984: 50) mengemukakan motivasi dapat diartikan sebagai suatu proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsic dan extrinsic. Faktor di dalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan sedang faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagi faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi baik faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik motivasi timbul karena adanya  rangsangan.

Chung & Megginson dalam Gomes (2001: 177) menjelaskan motivation is defined as goal-directed behavior. It concerns the level of effort one exerts in pursuing a goal… it is closely related to employee satisfaction and job performance (motivasi dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan… motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerjaan dan performansi pekerjaan). Dari berbagai pendapat tersebut dapat diartian motivasi merupakan sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Alasan atau dorongan tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Motivasi dalam Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses yang terjadi pada diri manusia dan berlangsug sepanjang hayat. Menurut Surya  belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.  Sedangkan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. (http://whandi.net/pengertian-motivasi-belajar.html, diakses 29 Januari 2011)

Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk belajar. Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi rangsangan (stimulus) dan respons. Berdasarkan sumber penyebabnya motivasi dikategorikan menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Sumber motivasi intrinsik adalah minat, kesenangan, kebutuhan yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan motivasi ekstrinsik sangat tergantung pada faktor luar sebagai konsekuensi perilaku. Guru dapat melakukan tindakan atau kegiatan untuk mengubah motivasi siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar.

Peran Motivasi dalam Proses Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dikatakan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar siswa.  Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting,  upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual dan lingkungan belajar yang dapat memotivasi proses belajar siswa.

Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa memerlukan kondisi tertentu yang mengedepankan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Siswa perlu didorong untuk mampu menata belajarnya sendiri dan saling berinteraksi dengan sesama teman maupun dengan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif/intelektual dan kemampuan sosial. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam belajar siswa perlu diusahakan, baik berupa perhatian dan bimbingan kepada anak di rumah maupun partisipasi terhadap sekolah dan kegiatannya.

2.2 Pentingnya Motivasi Belajar

Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Semakin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil juga pelajaran tersebut. Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Motivasi berkaitan erat dengan suatu tujuan dan motivasi mempengaruhi adanya kegiatan. Siswa belajar karena adanya dorongan kekuatan mentalnya. Kekuatan mental tersebut dapat berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita.

Ada tiga fungsi motivasi yang dikemukakan oleh Syaiful Bahri, yaitu :

a) Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Pada mulanya siswa tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari, muncullah minat untuk belajar. Hal ini sejalan dengan rasa keingintahuan dia yang akhirnya mendorong siswa untuk belajar. Sikap inilah yang akhirnya mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya siswa ambil dalam rangka belajar.

b) Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap siswa itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung. Siswa akan melakukan aktivitas dengan segenap jiwa dan raga. Akal dan pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.

c)  Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Yaitu dengan menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang mendukung guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dari penjelasan tersebut pada intinya fungsi dari motivasi ini dapat di simpulkan bahwa motivasi sebagai penggerak kegiatan, motivasi sebagai pendorong perbuatan, motivasi sebagai pengarah perbuatan dan motivasi sebagai penyeleksi perbuatan.(http://belajarpsikologi.com/pengertian-motivasi-belajar/, diakses 29 Januari 2011)

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Dimyati dan Mudjiono (2006: 85-86) mengemukakan pentingnya motivasi bagi siswa yaitu:

(1) Menyadarkan kedudukan pada awal, proses, dan hasil akhir. (2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebayanya. (3) Mengarahkan kegiatan belajar. (4) Membesarkan semangat belajar. (5) Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya ada istirahat atau bermain) yang bersinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga berhasil.

Sedangkan pentingnya motivasi bermanfaat bagi guru untuk:

(1) Membantu membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil, membangkitkan bila siswa tidak bersemangat, meningkatlkan bila semangat belajarnya timbul tenggelam, memelihara bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar. (2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam ragam. (3) meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pendidik. (4) Memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.

Agar pembelajaran di kelas berlangsung secara efektif, peranan guru dalam memotivasi siswa sangat penting, untuk itu guru harus memiliki cara-cara untuk membangkitkan motivasi belajar siswanya. Cara tersebut diantara dengan memberi angka (nilai), hadiah, kompetisi, sadar akan tugas, pujian, umpan balik, ulangan, hukuman yang mendidik, penggunaan metode yang bervariasi, pembentukan kelompok, dan sebagainya.

2.3 Motivasi yang Bersumber dari Kebutuhan

Menurut teori kebutuhan, setiap manusia bertindak senantiasa didorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan (needs) tertentu. Kebutuhan ini menunntut pemenuhan, dimana pemenuhan kebutuhan dimulai dari tingkatan yang paling dasar dan secara hierarchis menuju kepada kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut Maslow, jika kebutuhan yang lebih rendah tingkatannya telah dapat dipenuhi, maka kebutuhan yang berada di tingkatan atasnya akan muncul dan minta dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini disebut motivator aktif. Sementara kebutuhan di tingkat atasnya menjadi strongest needs, karenanya kebutuhan manusia itu secara berjenjang dan secara terus-menerus minta dipenuhi.

Jika kebutuhan-kebutuhan  ini salah satunya tidak terpenuhi, maka usaha manusia hanya itulah menjadi yang terpenting pada diri manusia termasuk makhluk hidup lainnya.

  1. Kebutuhan rasa aman dan terjamin

Yang dimaksud rasa aman disini tidak saja secara fisik, tetapi juga secara psikis atau mental. Aman secara bertahan  pada level sebelumnya, dan tidak ada peningkatan. Selain itu, hal ini bisa menjadi penyebab timbulnya sikap-sikap destruktif, menentang dan frustasi.  Adapun kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Kebutuhan fisiologis

Yang dimaksud kebutuhan fisiologi adalah kebutuhan akan makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal. Kebutuhan ini ditempatkan sebagai yang paling dasar, oleh karena fisik misalnya terhindar dari gangguan kriminal, teror, gangguan orang lain, gangguan dari bangunan dan tempat yang tidak aman, dan lain-lain. Aman secara psikis misalnya, tidak banyak kena marah, tidak banyak kena damprat, tidak bnayak diejek, tidak direndahkan hara dirinya dan sebagainya. Kebutuhan rasa aman dan rasa terjamin ini sangat penting karena dapat menjadi faktor motivasi.

  1. Kebutuhan Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh agar dianggap sebagai warga komunitas sosialnya. Kebutuhan sosial ini mengandung arti bahwa ia harus juga diterima oleh orang lain. Kebutuhan sosial ini sangat penting artinya bagi para pembelajar. Pembelajar tidak akan dapat belajar dengan baik jika merasa atau memiliki persepsi dirinya ditolak oleh warga komunitasnya. Karenanya, ia haruslah senantiasa dapat diterima dengan baik oleh teman-teman sesama pembelajar. Kebutuhan mengasihi dan dikasihi oleh orang lain juga berada dalam kebutuhan sosial ini.

  1. Kebutuhan Ego

Kebutuhan ego adalah kelanjutan dari kebutuhan sosial. Ia ingin prestise dan berprestasi. Oleh karena itu, ia membutuhkan kepercayaan dan tanggungjawab dari orang lain. Dengan kepercayaan dan tanggungjawab yang menantang, maka seseorang akan beraktivitas. Jika kebutuhan ini diterapkan dalam pembelajaran, maka pembelajar haruslah diberikan banyak tugas-tugas yang menantang tetapi masih dalam kerangka kemampuannya, sehingga ia termotivasi untuk belajar.

  1. Kebutuhan aktualisasi diri

Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk membuktikan dirinya dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Pemenuhan kebutuhan tertinggi ini memerlukan suasana kondusif dari lingkungan, sehingga seseorang dapat bebas mengaktualisasikan dirinya.

Kalau digambarkan dalam sebuah bagan, kelima macam kebutuhan yang menunjukkan tahap tersebut membentuk tangga seperti pada gambar berikut.

Kelima macam kebutuhan ini tersusun dari yang paling rendah sampai dengan yang paling tinggi. Menurut Maslow, pada umumnya motif yang lebih tinggi akan muncul apabila motif dibawahnya telah terpenuhi, namun kadang juga ada kekcualian dimana motif tertinggi muncul meskipun motif dibawahnya belum terpenuhi. Juga pada individu-individu tertentu mungkin saja terjadi bahwa perkembangannya hanya pada tahap tertentu saja. Misalnya dalam situasi tertentuindividu hanya memiliki motif fisiologis, motif-motif lainnya tidak atau tidak sempat berkembang. Maslow juga menjelaskan bahwa motif pertama sampai keempat bersifat menghilangkan kekurangan, oleh karena itu bersifat motif menghilangkan (deprivation Motivation atau D-Motives). Sedangkan motif kelima bersifat mengembangkan, oleh karena itu disebut motif pengembangan, pertumbuhan atau motif hidup. Seseorang yang telah mencapai tahap aktualisasi diri, memiliki pribadi yang utuh, sehat, seimbang dan matang. Ia memiliki pandangan yang objetif, baik terhadap dirinya maupun orang lian, orientasi yang sehat, yaitu bertolak dari kemampuan dan kecakapan yang secara nyata dimiliki, bisa bertanggungjawab terhadap gagasan, rencana dan perbuatan yang dilakukannya.

Selain Maslow, ada tokoh lain yang mengemukakan motivasi dari sudut tinjau yang berbeda, yaitu Frederick Hezberg. Heberg menamai teorinya dengan Hygiene theory. Meburut Hezberg, ada faktor-faktor yang manakala terpenuhi bisa menjadi motivator, sebaliknya beberapa faktor yang jika terpenuhi bisa berfungsi sebagai penyehat. Yang termasuk dalam faktor motivasi adalah: keberhasilan seseorang (achievment), penghargaan atas suatu hasil yang dicapai, pekerjaan yang menantang, tanggungjawab yang diberikan, pengembangan diri. Sementara yang dipandang sebagai faktor penyehat adalah: kebijaksanaan (policy), administrasi, pengawasan, keadaan, tempat kerja, hubungan antar manusia di tempat kerja, gaji dan upah, soal jaminan, dan sebagainya. Faktor-faktor penyehat ini memang tidak menjadikan timbulnya motivasi seseorang, tetapi jika tidak diperhatikan, dapat menurunkan motivasi, karenanya faktor penyehat merupakan prasyarat bagi munculnya faktor motivasi.

2.4 Jenis dan Sifat Motivasi

2.4.1 Jenis Motivasi

Motivasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.

Motivasi Primer

Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia (Sardiman A.M., 2004: 132). Manusia adalah mahluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Di antara insting yang penting adalah memelihara, mencari makan, melarikan diri, berkelompok, mempertahankan diri, rasa ingin tahu, membangun, dan kawin.

Insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.

Tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu untuk bertingkah laku, semakin besar energi dalam insting, maka tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan enargi pada insting berkurang. Objek insting adalah hal-hal yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu. Sumber insting adalah keadaan kejasmaniaan individu (Freud dalam Dimyati dan Mudjiono, 200x: 87).

Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri.

Motivasi Sekunder

Motivasi sekunder adalah motivasi yang timbul karena dipelajari. Manusia adalah makhluk social dan hidup dalam lingkungan social bersama manusia lain. Oleh karena itu, perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor bilogis saja, tetap juga faktor-faktor sosial (Sardiman A.M., 2004: 135). Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting sebagai berikut.

a) Komponen afektif, komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi.

b) Komponen kognitif, komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan.

c) Komponen konatif, komponen konatif adalah tekait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak (Dimyati dan Mudjiono, 200x: 88).

Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap, emosi, pengetahuan yang dipercaya, serta kebiasaan dan kemauan.

2.4.2 Sifat Motivasi

Motivasi seseorang dapat bersumber dari (a) dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal/intrinsik, (b) dari luar diri seseorang yang dikenal sebagai motivasi eksternal/ekstrinsik (http://ganjar87.wordpress.com/2009/06/05/motivasi-belajar/, diakses 27 Januari 2011).

Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri), motivasi yang didasarkan pada sebuah ‘nilai’ dari kegiatan yang dilakukan tanpa melihat penghargaan dari luar (Djamarah, Syaiful Bahri, 2002: 153). Motivasi ini timbul dari dalam individu tanpa adanya pengaruh dari luar. Keinginan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, keinginan untuk memahami sesuatu hal, merupakan motivasi intrinsik yang ada pada semua orang. Oleh karena itu, motivasi intrinsik perlu diperhatikan oleh para guru sejak dini sebab pada usia ini para guru masih memberi tekanan pada pendidikan kepribadian siswa khususnya disiplin diri untuk beremansipasi. Jika siswa memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan belajarnya. Penguatan terhadap motivasi intrinsik siswa perlu diperhatikan, sebab disiplin merupakan kunci keberhasilan belajar.

Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Beberapa contoh motivasi ekstrinsik dalam belajar antara lain berupa penghargaan, pujian, hukuman, celaan atau ingin meniru tingkah laku seseorang. Motivasi entrinsik ini sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan (reward) dan hukuman. Imbalan eksternal dapat berguna untuk mengubah perilaku siswa.Fungsi imbalan adalah sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid.

Motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat dijadikan titik pangkal rekayasa pedagogis guru. Sebaiknya guru mengenal adanya motivasi-motivasi tersebut. Adakalanya guru menghadapi siswa ynag belum memiliki motivasi belajar yang baik. Pada siswa yang tingkat motivasi intrinsiknya rendah, diperlukan adanya motivasi ekstrinsik. Apabila diberikan secara tepat, motivasi ini lambat laun akan menjadi kebiasaan bagi siswa sehingga berubah menjadi motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi intrinsik yaitu pada saat siswa menyadari pentingnya belajar dan ia sungguh-sungguh tanpa di suruh orang lain.

2.5 Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar

Berdasarkan hasil penelitian yang saksama tentang upaya yang mendorong motivasi belajar siswa, khususnya pada sekolah yang menganut pandangan demokrasi pendidikan dan yang mengacu pada pengembangan self motivation. Kenneth H. Hoover, mengemukakan prinsip-prinsip motivasi belajar, sebagai berikut

1). Pujian lebih efektif daripada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan suatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat meng­hargai apa yang telah dilakukan. Karena itu, pujian lebih efektif dalam upaya mendorong motivasi belajar siswa.

2). Para siswa mempunyai kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) yang perlu mendapat kepuasan. Kebutuhan-kebutuhan itu ber­wujud dalam bentuk yang berbeda-beda. Siswa yang dapat me­menuhi kebutuhannya secara efektif melalui kegiatan-kegiatan belajar hanya memerlukan sedikit bantuan dalam motivasi belajar.

3). Motivasi yang bersumber dari dalam dan individu lebih efektif daripada motivasi yang berasal dari luar. Motivasi dari dalam memberi kepuasan kepada individu sesuai dengan ukuran yang ada dalam din siswa itu sendiri.

4). Tingkah lake (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan penguatan (reinforcement). Apabila suatu per­buatan belajar mencapai tujuan, maka terhadap perbuatan itu perlu segera diadakan pengulangan kembali setelah beberapa waktu kemudian, sehingga hasilnya lebih mantap. Penguatan perlu dilakukan pada setiap tingkat pengalaman belajar.

5). Motivasi mudah menjalar kepada orang lain. Guru yang berminat dan antusias dapat mempengaruhi siswa, sehingga berminat dan antusias pula, yang pada gilirannya akan mendorong motivasi rekan-rekannya, terutama dalam kelas bersangkutan.

6). Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi belajar. Apabila siswa telah menyadan tujuan belajar dan pembelajaran yang hendak dicapainya, maka perbuatan belajar ke arah tujuan tersebut akan meningkat, karena daya dorongnya menjadi lebih besar.

7).   Tugas-tugas yang dibebankan oleh din sendiri akan menimbulkan

minat yang lebih besar untuk melaksanakannya daripada tugas­tugas yang dipaksakan dan luar. Guru perlu memben kesem­patan kepada siswa menemukan dan memecahkan masalah sendiri berdasarkan minat dan keinginannya, dan bukan dipaksakan oleh guru sendiri.

8). Ganjaran yang berasal dari luar kadang-kadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat belajar. Dorongan berupa pujian, penghargaan, oleh guru terhadap keberhasilan siswa dalam belajar dapat merangsang minat dan motivasi belajar yang lebih aktif.

9). Teknik dan prosedur pembelajaran yang bervariasi adalah efektif untuk memelihara minat siswa. Strategi pembelajaran yang dilaksanakan secara bervariasi dapat menciptakan suasana yang menantang dan menyenangkan bagi siswa, sehingga lebih men­dorong motivasi belajar.

10). Minat khusus yang dimiliki oleh siswa bermanfaat dalam belajar dan pembelajaran. Minat khusus itu mudah ditransferkan menjadi minat untuk mempelajari bidang studi atau dihubungkan dengan masalah tertentu dalam bidang studi.

11). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk merangsang minat belajar bagi siswa yang lamban, temyata tidak bermakna bagi siswa yang tergolong pandai, karena adanya perbedaan tingkat kemampuan. Karena itu, guru yang hendak membangkitkan minat belajar para siswa agar menyesuaikan upayanya dengan kondisi siswa bersangkutan.

12). Kecemasan dan frustrasi yang lemah kadang-kadang dapat membantu siswa belajar menjadi lebih balk. Keadaan emosi yang lemah dapat mendorong perbuatan yang lebih energik. Guru hendaknya memperhatikan keadaan ini supaya dapat meman­faatkannya dalam proses pembelajaran.

13). Kecemasan yang serius akan menyebabkan kesulitan belajar, dan mengganggu perbuatan belajar siswa, karena perhatiannya akan terarah pada hat lain. Akibatnya, kegiatan belajarnya men­jadi tidak efektif.

14). Tu&qs-togas yang terlampau sulit dikerjakan dapat menyebabkan frustrasi pada siswa, bahkan dapat mengakibatkan demoralisasi

Menurut Ripple Klausmier ( dalam Yudha Saputra 1999 ). Ada 8 prinsip motivasi, yaitu :

1.   Memfokuskan pada perhatian

2.   Memanfaatkan kebutuhan anak untuk meraih sukses

3.   Membantu anak mencapai tujuan

4.   Memberikan umpan balik

5.   Memberikan model berupa symbol dalam kehidupan nyata

6.   Memberikan ucapan

7.   Mengembangkan system penghargaan dan hukuman bila perlu

8.   Menghindari penggunaan prosedur yang menimbulkan tekanan ( kecemasan )

2.6  Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar

Motivasi belajar senantiasa bergelombang. Ada kalanya bergerak naik dan adakalanya bergerak turun. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkannya. Menurut Imron(1996: 107-110) ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar pembelajar, yaitu:

  1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar

Ada tujuh prinsip yang harus dipedomani dalam belajar, yaitu:

  • Prinsip perhatian dan motivasi belajar
  • Prinsip keaktivan belajar
  • Prinsip keterlibatan langsung pembelajar
  • Prinsip pengulangan pembelajar
  • Prinsip sifat perangsang dan menantang dari materi yang dipelajari
  • Prinsip pemberian balikan dan penguatan dalam belajar
  • Prinsip perbedaan individual antar pembelajar

Ada dua cara dalam mengoptimalkan penerapan prinsip belajar tersebut. Pertama, menyusun strategi sehingga prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan secara optimal. Kedua, menjauhkan kendala-kendala yang ditemui dalam mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.

  1. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis belajar/pembelajaran

Cara yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan unsur dinamis dalam pembelajaran yaitu, (1) menyediakan secara kreatif berbagai unsur belajar pembelajaran tersebut dalam setting belajar pembelajaran, contohnya peralatan pengajaran yang mungkin tidak tersedia atau tak terjangkau dapat disediakan sendiri dengan merancang bersama-sama dengan pembelajar. (2) memanfaatkan sumber-sumber di luar sekolah sehingga keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki sekolah dapat ditanggulangi. Misalnya dengan mengadakan kerjasama dengan sejumlah lembaga di luar sekolah.

  1. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalamn/kemampuan yang telah dimiliki dalam belajar. Setiap pembelajar memiliki pengalaman yang berbeda satu dengan yang lain. Kemampuan dan pengalaman berbeda ini hendaknya tidak menjadi kendala dalam pembelajaran. Kemampuan atau pengalaman masa lalu ini bisa didapatkan oleh pembelajar melalui aktivitas belajar atau aktivitas lain no belajar. Upaya yang harus dilakukan guru agar kemampuan dan pengalaman masa lalu dapat mendukung aktivitas belajar adalah:
  • Biarkan pembelajar dapat menangkap apa yang dipelajari sekarang ini dari perspektif kemampuan dan pengalaman masa lalunya. Jangan dipaksa menggunakan perspektif gurunya
  • Kaitkan aktivitas belajar pembelajar pada masa sekarang ini dengan kemampuan dan pengalaman yang sudah dimilki oleh pembelajar.
  • Gali dulu pengalaman dan kemampuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar melalui tes lisan atau tertulis sebelum menyampaikan materi berikutnya.
  • Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki.
  1. Mengembangkan cita-cita /aspirasi dalam belajar.

Cita-cita adalah sesuatu yang dikejar oleh seseorang. Kegiatan belajar lebih banyak teraksentusi pada pencapaian cita-cita tersebut. Adany penjurusan di sekolah-sekolah dan kurikulum muatan lokal, yang antara daerah satu dengan yang lain berbeda adalah dalam rangka menampung aspirasi dan cita-cita yang berbeda antar pembelajar di daerah yang satu dan lainnya. Ada beberapa cara yang dapat ditemmpuh untuk mengembangkan aspirasi pembelajar, yaitu:

  • Kenalilah aspirasi dan cita-cita pembelajar.Pengenalan ini dapat dilakukan dengan membagikan daftar isian yang dapat memuat sejumlah aspirasi atau cita-cita pembelajar, lalu menyuruh pembelajar merangking apa yang diminati dan yang tidak timinati.
  • Hasil pengenalan aspirasi tersebut dapat dikomunikasikan kepada siswa dan orang tuanya. Orang tua patut diberitahu agar mereka tidak memaksakan kehendaknya kepada putra-putrinya.
  • Sediakan program-program yang dapat mengembangkan aspirasi dan cita-cita tersebut.

Selain upaya-upaya diatas, Sukmadinata (2005: 71) juga mengemukakan beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi siswa yaitu.

1)        Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan. Tujuan yang jelas dan manfaat yang betul-betul  dirasakan oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar.

2)        Memilih materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik minat siswa, dan minat merupakan salah satu bentuk motivasi.

3)        Memilih cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan berpartisipasi. Banyak berbuat dalam belajar bagaimanapun juga akan lebih membangkitkan semangat dibandingkan dengan hanya mendengarkan. Oleh karena itu guru perlu menciptakan berbagai kegiatan siswa di dalam kelas.

4)        Memberikan sasaran dan kegiatan-kegiatan antara. Sasaran akhir dari kegiatan belajar siswa adalah lulus dari ujian akhir. Menempuh ujian akhir ini, bagi siswa yang baru masuk merupakan kegiatan yang masih terlalu lama, oleh karena itu perlu diciptakan sasaran dan kegiatan antara seperti ujian  semester.

5)        Berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses. Sukses yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, dan sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi.

6)        Berikanlah kemudahan dan bantuan dalam belajar. Tugas guru atau pendidik di sekolah adalah membantu perkembangan siswa. Agar perkembangan siswa lancar, berikanlah kemudahan-kemudahan dalam belajar, dan jangan sebaliknya guru mempersulit perkembangan belajar yang dialami siswa.

7)        Berikanlah pujian, ganjaran, atau hadiah. Pujian akan membangkitkan semangat, tetapi sebaliknya kritik, cacian dan kemarahan akan membunuh motivasi belajar.

8)        Penghargaan terhadap pribadi anak. Bagaimanapun ampuhnya ketujuh upaya pembangkitan motivasi diatas, perlu dilandasi oleh sikap dan penerimaan yang wajar dari guru terhadap keberadaan dan pribadi harga diri siswa. Harga diri ini bukan hanya dimiliki oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sikap menerima siswa sebagaimana adanya menghargai pribadi siswa, memberi kesempatan kepada siswa mencobakan jalan pikirannya sendiri, mendasari semua bentuk usaha pembangkitan motif diatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: